Home > Artikel > Kera Yang Menangis

Kera Yang Menangis

Dahulu kala pada suatu hari di musim semi, sebaris kereta tempur dengan bergemuruh melintasi daratan dengan cepat. Para serdadu menggenakan baju perang berkilauan. Panji-panji berkibaran ditiup angin sepoi-sepoi.

Dibelakang mereka tampak para jendral membawa pedang dan tombak di ikuti oleh sebuah kereta tempur yang mewah dan indah. duduk didalamnya Raja Ch’u yang agung.

Setiap tahun sang Raja mengadakan ritual perjalanan keliling kerajaan untuk melihat kondisi negerinya sekalian berburu dan melatih pasukan tempurnya.

Raja Ch’u memiliki seorang jendral bernama Yang Youchi, yang terkenal akan keahliannya dalam memanah. bahkan sekarang lebih dari 2000 tahun kemudian, orang masih mengingat betapa hebatnya dia. tembakannya tidak pernah meleset sekali pun. Raja mempercayainya. selama musim berburu, kelici, rusa dan semua binatang liar di dalam hutan tidak ada yang dapat lolos dari bidikannya. bila dia memanah 100 kali berarti 100 binatang yang akan dibawa pulang.

Di suatu dataran yang agak tinggi terdapatlah sebatang pohon Liu yang besar dan tua, waktu melewatinya serdadu-serdadu mendengar suara, mereka melihat seeokor kera diantara dahan-dahan diatas mereka. kera itu melompat kesana kemari diantara dahan-dahan tersebut. seolah-olah mengoda serdadu yang sedang berburu tersebut. bahkan kera itu kadang-kadang melempar buah-buahan
kepada serdadu tersebut. hingga membuat para serdadu menjadi marah.

“Baiklah, monyet nakal aku akan memberikan pelajaran pada mu!” kata seorang serdadu sambil membentangkan busurnya. tapi ketika panah lepas dari busurnya dengan cekatan sang kera menghindar. sehingga anak panah hanya mengenai dahan pohon Liu.melihat keadaan ini teman-teman serdadu tersebut tertawa.

“Beruntung” dengus pemanah itu “terima ini”

Dia melepaskan panah lainnya, hingga anak panahnya habis tak satupun mengenai sang monyet, melihat kelihaian sang monyet teman-teman serdadu yang lain pun ikut memanah, hingga sampai anak panah terakhir hanya mengenai angin.

Ketika sang raja melihat kejadian itu betapa terkejutnya dia, dia perintahkan Jendral Yang untuk membunuh monyet itu, melihat sang Jendral mendekat monyet itu mulai menangis, air matanya membasahi pipi dia tersedu-sedu dan memilukan.

Raja bertanya “mengapa dia menangis?” Jendral Yang menjawab “Paduka, monyet itu tahupanah hamba tidak pernah meleset sekalipun, sehingga betapa lihainya pun dia akan tetap mati ditangan hamba, karena itu dia menangis”

Raja berpikir sambil menundukan kepalanya. Betapa sedihnya kera itu! hewan lainya pasti mederita seperti itu juga. hatinya yang mulia di penuhi rasa kasih. raja memerintahkan sang Jendral untuk menyimpan senjatanya dan menghentikan perburuan. sehingga tidak lebih banyak lagi binatang yang akan menderita. semenjak itu sang raja memutuskan tidak akan makan daging lagi selama sisa hidupnya.

Ketika beliau kembali lebih cepat dari rencana, semua rakyat menyambut dengan suka cita, rakyat bersyukur memiliki raja yang penuh welas asih. mereka berbahagia karena air mata kera itu hati sang raja semakin lembut. melihat kelembutan hati sang raja semua rakyat bekerja keras untuk negara sehingga negara menjadi makmur. dan sang raja dikarunia umur hingga ratusan tahun dan juga keturunan yang sangat berbudi luhur.

Sumber : buku the love of life, karangan GB. Talovich,

Categories: Artikel Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: